Melupakan itu wacana, sedang lupa itu lumrah saja.
Lantas apa jawaban dari para pengguna bahasa?
Akankah mereka percaya saja.
Atau justru sebaliknya, berusaha menjabarkan meski sejatinya tak mampu membuat banyak mata terkesima.
Diantara dua pilihan yang tersedia,
Saya memilih yang kedua.
Penjabaran ini berawal dari tanya seorang kawan kepada saya.
"Bagaimana caranya melupakan seorang yang tercinta?"
Saya diam seribu bahasa.
Bukan, bukan karena tak tahu apa jawabnya.
Saya hanya sedang mencari alasan yang paling tepat untuk menjabarkannya. Mengambil sebuah contoh, menggambarkan analoginya, dan menghubungkannya dengan kisah kawan saya itu.
Beberapa waktu berlalu, namun alasan yang tercipta tak kunjung terasa cukup sempurna.
Hingga tak berapa lama saya menyadari.
Bahwa tidak ada alasan yang paling tepat untuk melupakan, ia (seorang yang tercinta).
Yang ada hanyalah alasan yang paling ingin kita yakini untuk melupakan, ia (seorang yang tercinta).
Maka jika kita ingin melupakan ia (seorang yang tercinta) bukanlah seseorang, sebuah buku, penggalan quotes atau apapun itu. Karena semuanya berasal dari niat kita sendiri. Ingin melupakan yang sekedar wacana atau menanti lupa yang lumrah saja.
Seringkali kita lupa (lumrah saja), memaknai cinta sebagai sesuatu yang abadi. Sedang dalam hidup tak ada yang abadi. Karena baik mencintai atau di cintai hanyalah bagian dari menjalani hari. Sama halnya dengan melupakan atau di lupakan. Keduanya hanya akan menunggu waktu yang tepat untuk memulai dan mengakhiri segalanya.
Kini, tepat semuanya berakhir. Dimana orang berbondong-bondong untuk melupakan (yang sekedar wacana) agar layak di terima oleh hati yang lain.
Selayaknya jawaban yang di nanti kawan saya, dalam harapnya ia mematrikan lupa. Namun bukan lupa yang sejatinya terjadi, karena sepenggal wacana masih tampak dari sana.
Maka, jika itu Anda apa yang terpatri dalam harap Anda? Melupakan yang hanya sekedar wacana atau menanti lupa yang lumrah saja?
N. Ath


Komentar
Posting Komentar