Dicampakkan untuk satu alasan, "terlalu baik" kutipnya


Setiap terang pasti ada gelapnya. 
Setiap laut pasti ada muaranya.
Begitu pula dengan kita, manusia.
Yang perpisahannya sudah ditentukan bahkan jauh sebelum awal pertemuannya.  

Meninggalkan atau ditinggalkan itu bukan lagi kehendak kita. Itu adalah takdir Tuhan, semesta alam. 

Menerima karena "terlalu baik" dan mencampakkanya dengan alasan yang sama. Klasik. 

Tapi kita bisa apa? Semua sudah menjadi kehendak dan waktu akan terus berjalan. Tanpa alasan, apalagi penyesalan. Semua yang dibangun diatas perasaan dan harapan. Terbayar dalam dua penggal kata yang bila teringat, seketika mampu memenuhi seluruh rongga didalam hati. Membuatnya sesak untuk waktu yang tidak dapat ditentukan, dan membara yang tidak ingin dipadamkan, "terlalu baik" kutipnya.

Maka jika itu Saya, tidak akan saya lakukan itu. Memilih "terlalu baik" sebagai alasan dari awal dan akhir suatu hubungan. Mengapa? Karna saya tahu rasanya awal dan akhir yang tercipta (dengan mengatas namakan penggalan kata itu). 
Ya..... Sederhananya begitu. 

Meski begitu, saya memilih untuk tidak mempersalahkan Ia (yang mencampakkan saya dahulu). Karena melaluinya saya belajar untuk merelakan diatas paksaan. 

Saya juga memilih untuk tidak mempersalahkan waktu (yang tak pernah berjalan mundur). Karena melaluinya saya belajar untuk menghargai segala sesuatu penuh rasa syukur. 

Hidup kita adalah rentetan pilihan yang takkan pernah usai, meski kita menekan tombol pause untuk rehat sejenak dari kelelahan yang melanda. Atau menekan tombol restart untuk memperbaiki diri dari kesalahan di masa lalu. Atau bahkan menekan tombol exit untuk memaksa keluar dari permasalahan yang terjadi. Ah.... Sayangnya hidup di dunia tak sesederhana dunia permainan. Yang segala tombolnya telah dianugrahkan kepada para pemainnya. Maka berbeda dengan mereka, tugas kita sebagai makhluk dunia adalah mencari tombol kita sendiri. 

Memilih diantara banyaknya pilihan. Mengenang diantara banyaknya kenangan. Dan bersyukur meski berada diantara banyaknya permasalahan. 

Karena ada kalanya.... Kita hanya harus melepaskan yang sudah tidak ingin berada di genggaman. Membiarkannya mengembara dan menemukan tangan yang lain. Ya, ada kalanya.... 

Yang dahulu pernah berbahagia karena bersama, harus rela berpisah karena tak sanggup lagi bersama. "Terlalu baik" kutipnya. 

Jika sungguhpun itu menjadi satu-satunya alasan atas kepergiannya. Jangan berubah. Hanya karena kutipan terakhirnya, "terlalu baik". Berubahlah jika kamu ingin, bukan karena ingin orang lain. 

Jangan memaksa. Hanya karena kutipan terakhirnya, "terlalu baik". Ingatlah bahwa segala sesuatu yang dipaksakan takkan pernah baik untuk diselesaikan. 

Hidup ini hanya sejenak kawan, sejenak saja. Bahagia itu pasti tiba. Sedih pun serupa. Keduanya hanya sedang menanti waktu yang tepat untuk tiba, tidak secara bersamaan melainkan beriringan. Agar setiap peristiwa berharga tak pernah terlewat dan tergantikan. Kebahagiaan datang bukan untuk menghapus kesedihan dan begitu pula sebaliknya. Keberadaan keduanya senantiasa mengingatkan kepada kita, untuk tidak selalu berharap pada awal yang Indah. Karena akhir siapa yang tahu?

Jika akhir adalah satu-satunya yang terlintas dalam benak. Maka ingatlah bagaimana awal itu membuatmu memilihnya. Pastilah karena "terlalu baik" kutipnya. 

N. Ath

Komentar

Postingan Populer