Kerja Keras Bagai Quda
Benarkah hanya Quda?
Tanpa mengurangi sedikitpun rasa hormatku pada Pencipta Quda maupun seluruh Quda yang ada di dunia ini.
Benarkah hanya Quda satu-satunya pekerja keras? Tidakkah makhluk hidup lain iri terhadap julukannya?
Dan berikut adalah hasil pengamatanku, bukan kepada para Quda. Tapi pada beberapa orang yang ku hadirkan sebagai sosok Pekerja Keras.
Kerja keras itu...
Saat memasuki usia senja, masih bisa berbagi untuk sesama. Mencari pakan untuk para Sapi dan Ayam kesayangannya.
-Mbahuti, 72 thn
Kerja keras itu...
Saat memasuki usia setengah baya, memilih untuk pendi (pensiun dini) dan mengambil banyak waktu untuk selalu ada bagi keluarga.
Kerja keras itu...
Saat memasuki usia dewasa, berani mengambil jarak antara keinginan dan kebutuhan. Keinginan untuk bersenang senang dan kebutuhan untuk masa depan.
Itu saja? Tentu tidak.
Terlalu banyak definisi kerja keras yang bisa diceritakan. Begitu banyaknya, hingga tak sanggup diuraikan satu per-satu? Tak juga begitu.
Tapi begini.
Bukankah semakin besar keinginan kita menyuarakan kerja keras, justru semakin terdengar sumbang dan melelahkan? Sadari saja, seberapa sering kita menyuarakan upaya kerja keras di Sosial Media.
Seakan hanya kita satu-satunya. Yang terbangun di pagi buta, menyaksikan kemacetan Ibukota, tak sempat menyentuh sarapan apalagi bahan bacaan, tapi tempat kita berkarya begitu banyak menuntut pembaharuan pengetahuan, kembali ke rumah dalam letih dan lusuh, kurang istirahat kurang liburan.
Menariknya, kita tak kunjung bosan menyuarakannya, dalam sepekan, sebulan, setahun dan seterusnya. Tentu tidak ada yang salah dengan itu. Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan itu ya.
Tapi coba bandingkan, dengan kondisi seperti ini.
Bekerja itu adalah kewajiban seluruh makhluk hidup di dunia. Bisakah kita sebutkan siapa yang tidak pernah berusaha untuk tetap bertahan di hidup yang keras ini? Bahkan tumbuhan sekalipun, berupaya untuk mengikuti arah sinar matahari untuk proses fotosintesis-nya.
Mungkin bagi kita, aktifitas ini tak sesulit itu. Hanya mengikuti sinar matahari saja. Tapi bisakah kita berdiri diatas pancaran matahari, 5jam saja sehari. Mungkin tak lama setelahnya kita akan Dehidrasi atau fatalnya Pingsan (tak sadarkan diri untuk beberapa saat)
Lalu apa makna yang bisa dipetik?
Percayalah, setiap makhluk punya caranya sendiri untuk berupaya. Baik untuk menyuarakan kerja kerasnya atau mewujudkan kerja kerasnya.
Sekarang pilihan itu ada pada kita, masih ingin menyuarakan kerja untuk perhatian yang tak seberapa atau mulai mewujudkan kerja untuk pencapaian yang tak ternilai harganya.
Selamat bekerja.
Selamat berkarya.
Di manapun kita berada.
Salam Kerja Keras bagai Quda dan tidak lupa seluruh Makhluk hidup lainnya.
N.Ath
(Ditulis dengan penuh kesadaran namun bukan untuk menjatuhkan pihak manapun. Karena tulisan ini akan menjadi pengingat untuk kita semua pun begitu untuk penulisnya)

Komentar
Posting Komentar