PENGAMEN BEDA DUNIA


Seperti pengamen bersuara merdu hari ini.
Suara yang bersih diiringi alunan gitar sendu membuat suasana senja makin digemari.
Meski bajunya kini mulai basah, diguyur rintik-rintik hujan di tepi pertokoan. 
Namun tidak banyak pengunjung yang langsung memberi uang.
Kebanyakan dari mereka justru, terlihat tak acuh.
Dengan memilih untuk tetap menyantap semangkuk bakso dihadapannya. 
Mungkin pengamen itu mulai lelah,
hingga pada akhirnya memutuskan untuk masuk ke pelataran toko
dan mulai mendekati para pengunjung.
Mengulurkan sebungkus plastik,
hendak mewadahi rupiah demi rupiah dari para baik hati.  

Alhamdulillah, ternyata tidak hanya logam yang memenuhi wadah itu.
Beberapa rupiah bertuliskan puluhan ribu pun nampak disana.
Wadah itu kini terlihat sesak, 
Tidak hanya dipenuhi rupiah dari logam yang memberatkan.
Tetapi sesak akan rupiah berjumlah puluhan ribu. 

Coba bandingkan dengan kehidupan pengamen jalanan lainnya.
Memaksa masuk ke bus dan bernyanyi secara bergantian.
Dengan suara yang tergolong biasa-biasa saja,
mungkin tidak banyak dari penumpang yang tergugah hatinya untuk memberi.
Namun pada akhirnya mereka memutuskan untuk tetap memberi dengan segera.

Alasannya sederhana, karena penumpang ingin pengamen itu lekas pergi,
dan tidak menganggu kenyamanan di perjalannya lagi.
Hasilnya, memang tidak sebanyak pengamen bersuara merdu. 
Namun soal waktu, pengamen inilah juaranya. 

Lantas apa yang bisa kita dapat dari dua kisah pengamen tadi?
Akankah kedua pengamen itu menjadi cerminan diri kita,
Dikala sedang "meminta" kepada Tuhan? 
Jika Ya, maka pengamen mana yang mencerminkan diri kita?
Pengamen bersuara merdu, yang rela menanti lama.
Atau,
Pengamen bersuara biasa, yang terus memaksa masuk ke dalam bus
demi sekantong logam semata. 

Mungkin masih banyak dari kita,
yang bertindak selayaknya cerminan pengamen bersuara biasa.
Memaksa masuk hanya untuk memenuhi apa yang disebut sebagai keinginan.
Memanjatkan do'a dikala hidup terasa sulit.
Diwarnai masalah yang tidak kunjung usai, dan lain sebagainya. 

Tidak peduli dengan kepada siapa kita meminta.
Seakan lupa akan janji-janji setia di masa lalu.
Janji untuk selalu setia kepada Tuhan,
dan tidak melalaikannya hanya karena kepentingan dunia.
Namun semua itu nampaknya sudah sirna.
Karena kini kita kembali dengan kebiasaan yang sama.
Yang selalu ingin didahulukan,
dengan alasan sudah terlalu jenuh dengan penantian. 

Lantas, bagaimana jika kita renungkan

Berapa banyak waktu yang telah kita siakan untuk melalaikan ibadah.
Dan berapa banyak waktu penantian kita untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
Apakah sebanding? Tentu jawabnya tidak
Karena jika Tuhan membandingkannya, 
mungkin keinginan kita takkan pernah datang tepat pada waktunya. 
Mungkin Tuhan hanya iba kepada kita,
seorang hamba dengan tingkat ibadah yang biasa-biasa saja.
Hadir dengan rangkaian permohonan yang luar biasa. 

(Selayaknya penumpang yang iba kepada pengamen bersuara biasa.)

Harusnya kita berkaca, sudah cukup puaskah kita.
Apabila diuji dengan jawaban dari do'a yang tak kunjung datang.
Hingga berkata Tuhan tak adil bagi kita.

Berdasarkan fenomena dua kehidupan pengamen yang berbeda,
Semoga mampu menjadikan kita
Seorang hamba yang tidak lagi haus dengan 'permintaan yang memaksa'
Namun sebalikya,
Menjadi seorang hamba yang senantiasa rindu dengan 'permintaan dalam penantian'. 

N. Ath


Komentar

Postingan Populer