Untuk tanya yang tak sempat terucap

Malam tak pernah berdusta. 

Siangpun serupa. 

Keduanya hanya akan bergerak pada paralelnya. 

Tidak saling mengirikan satu sama lain. 

Dan merasa terganggu atas kenyamanan masing-masing. Begitu seterusnya. 

Hingga Izroil meletakkan bibirnya di sangkakala. 

Dan Allah membuat seisi dunia hancur tak tersisa. Semuanya masih sama. 

Malam yang masih setia, dan siang yang senantiasa bersahaja. 

Haruskah kita meniru keduanya? Berjalan beriringan atau justru sebaliknya? 


Pertanyaan yang tak pernah sanggup terucap. 

Berkeliaran di benak, menyiksaku, dan berharap seseorang mampu wakili tanyaku kepadamu. 

Sayangnya tidak ada yang nampak seperti itu.


Kamu terlalu kokoh, seperti bangunan yang tak ingin diruntuhkan. 

Kamu terlalu tinggi, seperti gunung yang tak ingin ditemukan. 

Dan masih banyak lagi, tentang kamu.


Mengapa semua tentang kamu, aku tahu. 

Apa kau pun begitu? 


Dari aku,

Si pemuja jawabmu


N. Ath

Komentar

Postingan Populer