PENJARAI BENAK = BUNUH DIRI


Pertama kali saat saya menulis judul ini, saya terfikirkan untuk menguraikan sebuah tanya. 
Benarkah keberadaan raga yang sempurna ialah jaminan kehadiran yang seutuhnya? 
Perihal saya tidak tahu jawabnya, maka mari kita temukan bersama apa jawabnya. 

Berikut adalah ilustrasinya:

Seringkali, dalam adegan film, dalam potongan cerita novel, atau bahkan dalam kehidupan nyata. Ada sebuah keadaan dimana kita sedang menghabiskan waktu bersama seseorang yang tercinta. Mungkin keluarga, kekasih, atau kerabat. 

Kegiatan seperti; Makan bersama, Berbincang atau hanya saling menatap dalam diam. Perihal sederhana yang seringkali kita lakukan, mulai dari perihal kecil hingga yang rumit sekalipun. 

Dalam kehadiran raga yang sempurna, kita menatap lamat-lamat seseorang yang duduk di hadapan kita. Saling melempar kata, saling mendengarkan, dan larut dalam kebersamaan hingga waktu berlalu tanpa terasa. Namun benarkah kehadiran kita saat itu merupakan kehadiran yang seutuhnya?

Jangan terburu-buru menjawabnya. Sebab kita adalah segolongan manusia yang besar kepala. Selalu berkata mampu meski pada kenyataannya belum tentu. 

Bayangkan saja, bagaimana jika keberadaan kita saat itu, belum mampu menyajikan kenyamanan bagi ia, seseorang yang sedang duduk di hadapan kita? Lantas mengapa kita terduduk disana, jika tak jua mampu janjikan kenyamanan untuk ia? 

Adakah pertemuan itu kita lalui sekedar tuk penuhi janji? 
Atau justru sebaliknya; sebuah pelarian dari pahitnya rutinitas sehari-hari?

Mungkin perihal itulah yang harus kita renungi. Memaksakan kehendak kepada benak agar hadir seutuhnya pada sebuah pertemuan yang tidak diinginkannya adalah sia-sia. Karena sebaik-baiknya mulut sembunyikan fakta, benak takkan mampu palsukan keberadaannya. 

Hanya kerelaan. 
Untuk berbagi waktu yang terbatas ini pada seseorang yang kita yakini mampu menebusnya dengan bahagia. 

Hanya kerelaan. 
Untuk membatasi benak yang senantiasa merdeka ini pada seseorang yang kita yakini mampu menjadi solusi dari setiap permasalahan.

Hanya kerelaan.
Untuk hadir sepenuhnya pada setiap pertemuan, dengan apapun alasannya. Terlepas dari janji 'sesama manusia', atau pelarian dari 'drama kehidupan'. 

Hanya merelakan.

Kini, setelah semua ilustrasi telah di uraikan, dan solusi telah di jabarkan. Mampukah kita menjalankannya? 

N. Ath

Komentar

Postingan Populer