Beranjak tua: Sudah jadi apa?


Salah satu keinginan manusia yang tak pernah terwujud adalahnya, menua, memikun, mengemis perhatian dan pada akhirnya meminta maaf pada setiap kesempatan untuk mempersiapkan kepulangannya.

Meski sejatinya tak semua dari kita beranggapan sama. Namun tak sedikit pula yang berharap keinginan itu tak pernah tiba sebelum ia memperkenankannya. 

Sayangnya hidup ini bukan milik kita seorang. Karena kita hanyalah partikel kecil di dalam bumi. Dimana segala aktivitas, usaha yang di balut dengan segenap keinginan itu belum tentu kan mengarahkan kita pada ketercapaian hidup. Baik di dunia maupun kehidupan setelahnya. 

Maka ketika kita beranjak tua, tindakan apa yang sepatutnya di lalui? 

Hanya berserah pada Illahi dan membuat diri kita semakin terasing diantara manusia lainnya?

Mengemis perhatian pada setiap kesempatan sehingga membuat orang lain semakin ingin meninggalkan kita?

Memikun dan semakin di pikunkan oleh sanak saudara tercinta?

Itu adalah contoh yang seharusnya tidak kita lakukan. Karena ketiganya adalah alasan paling buruk untuk bertahan hidup.   Alasan yang di buat sendiri, untuk meyakinkan diri bahwa kita tak lagi berkesempatan untuk kembali muda dan bahagia. 

Saya percaya, dengan tidak menghadirkan pilihan. Seseorang akan lebih pandai memaksimalkan diri, menemukan jalannya sendiri, tanpa harus terpaku oleh satu pedoman atau arahan dari orang lain. Saling mengingatkan adalah satu-satunya jalan yang saya pilih untuk senantiasa memperbaiki diri, dan orang-orang di sekitar. 

Cukupkanlah merenungkan tiga contoh diatas untuk membentuk pilihan kita. Dan segerakan untuk bersiap menuju masa dengan cara yang berbeda.

Karya ini di tulis sebagai upaya perenungan mendalam terhadap diri, bukan keinginan untuk menggurui, apalagi mencibir mereka segolongan lansia. Karena kitapun kan beriringan menggantikan posisinya.

Sesaat sebelum kita menyadari bahwa masa itu akan segera tiba. Bergegaslah untuk kembali mengingat, masa dimana kita di berikan kesempatan untuk terlahir di kehidupan yang sempurna ini. Adalah sebuah keajaiban yang tiada tara.

Semoga mampu menyederhanakan pikir kita, yang mulai menyesali masa muda karena berlalu sementara saja, dan masa tua yang mendominasi setelahnya. 

Kini, saat usia tak lagi muda dan bahagia semakin sulit dirasa. Mungkinkah kita sudah tiba kepada masa? 

Beranjak tua: Sudah jadi apa? 

N. Ath

Komentar

Postingan Populer