WAHAI WANITA, APA KAU SUDAH CUKUP SETIA?
Selalu berpikir setia kepada para pujangga yang sejatinya masih terlalu ragu untuk menyatakan cinta.
"Ah, mungkin ia hanya butuh waktu sedikit lebih lama untuk memulai segalanya...
Menentukan kapan tanggal baiknya...
Dimana tempat yang akan menjadi momen berharga...
Dan siapa yang akan menjadi saksinya..."
Itulah isi benak wanita yang sedang menunggu pernyataan cinta dari sang pujangga.
Begitu rumit pikirnya. Namun benarkah begitu adanya? Setelah hari, bulan, bahkan tahun berlalu. Ternyata pernyataan itu tak kunjung tiba. Lantas, akankah wanita menghentikan harapnya disana? Inilah jawabnya.
Berdasarkan pengamatan yang pernah saya lakukan, 70% wanita mengatakan tidak. 20% diantaranya mengatakan belum. Sedang 10% sisanya mengatakan mundur. Mengapa hanya 10% wanita yang mengatakan siap mundur? Apakah itu dapat menjadi bukti kesetiaan wanita pada lawan jenisnya? Ternyata belum jua jawabnya.
Karena wujud kesetiaan tidak selalu di lambangkan dengan penantian. Namun kebanyakan dari wanita memberhentikan harapnya di sana. Bahwa di balik setiap penantian selalu terbesit perjalanan nan membahagiakan. Bersama ia yang diyakininya mampu menghantarkan kebahagiaan itu.
Jika penantian saja tidak cukup dirasa setia, kemudian seperti apa wujud kesetiaan sejatinya?
Bagi saya, Ialah kebahagiaan yang di datangkan dari kehidupan nan sederhana ini. Bila belum di perkenankan untuk bersama, maka cukupkanlah rasa. Yakinilah bahwa masih ada ia yang lebih baik memendam rasa untuk Anda. Menunggu untuk Anda mengentikan harap pada seseorang yang kini sudah menjadi milik orang lain.
Karena kesetiaan adalah dambaan, sedang menjadi setia adalah pilihan. Baik itu Wanita atau Pria, keduanya adalah dua pribadi yang tak dapat terduga. Hanya satu hal yang nampak jelas dari keduanya, adalah keinginan untuk di setiakan tanpa harus menyetiakan.
Lantas, masihkah Anda merasa makhluk paling setia?
Untuk para Wanita,
Dari wanita yang juga ingin di Setiakan.
N. Ath


Komentar
Posting Komentar