Keheningan seorang Sahabat



Suatu senja pada 11, Mei 2015
Dua orang sahabat dalam hubungan yang berjarak.

Ada kalanya diam memberi kita banyak jawaban. Begitu pula kediamanmu beberapa hari lalu, mengingatkanku pada banyak hal. 

Ah, betapa berartinya seseorang ini. Seseorang yang dalam diamnya membuatku marah pada diriku sendiri. 
Ah, betapa berartinya seseorang ini. Seseorang yang dalam diamnya membuatku bertanya-tanya akan kesalahan yang telah kuperbuat kepadanya. 
Ah, betapa berartinya seseorang ini. Seseorang yang dalam diamnya menyadarkanku pada banyak hal. Keegoisan, kepalsuan, dan pelarian. Mungkin 3 sifat itu yang paling ingin teringat. 

Bahkan kediaman itu, membuatku teringat pada suatu peristiwa. Ketika ada seorang teman bertanya pada sahabatnya, "Hai sahabat! Hendak kemana kau pergi?" dan sahabat menjawab "Hendak pergi sejenak, menuju utara. Menyaksikan pertunjukkan indah bersama kawan-kawan." Tanpa berkata lagi sang teman hanya berbalik. Melangkah mundur dalam langkah kaki yang tak berjejak. 

Seusai pertunjukkan sahabat kembali dengan wajah yang riang. Ia menyapa temannya dan berucap "Hai teman, mengapa perangaimu begitu ruam? Tak bisa tidurkah kau semalam?" Sang teman hanya menjawab "Tidak, sahabat. Aku baik-baik saja". 

Ada yang berbeda dari ucapnya, meski kalimatnya terlihat baik-baik saja. Tetapi lafadznya tak terdengar baik-baik saja. Haruskah aku meninggalkannya? Atau menemaninya dalam diam? Atau hanya meminta maaf dan pergi membiarkannya dalam keheningan? Pikir sahabat dalam benaknya. Begitu banyak, begitu membingungkan. Alhasil, ia tak mendapati satupun. Ia hanya pergi dalam diam dan tenggelam dalam keegoisan dirinya sendiri. Meninggalkan seorang teman yang selalu memanggilnya "Hai sahabat" dan meninggalkannya hanya untuk pergi bersama "Kawan-kawan". 

Mungkin hanya air mata, satu-satunya saksi paling setia. Karena kalimatku, permintaan maafku, peringai bahagiaku, semuanya mungkin tampak palsu dimatamu. 

Aku memang tak banyak memberi, tapi aku terlalu banyak menerima. Aku memang tak banyak memahami, tapi aku terlalu banyak dipahami. Aku tak banyak melakukan hal-hal baik lainnya, tapi aku terlalu banyak menemukan hal-hal baik dalam kehidupanku. Segala sesuatu yang membuatku terlalu nyaman menjalani hari, bahkan semakin kusadari, aku semakin tergerus oleh ke-terlalu-an ini. 

Aku melalaikan sahabat yang begitu banyak menghabiskan waktunya dalam kediaman. Ingin rasanya aku menepuknya dalam diam dan berkata.... "Hai, sahabat! Tahukah engkau bahwa waktu yang kita miliki sangatlah singkat. Sungguh!" Dan dalam waktu yang singkat itu, jika engkau berkenan. Maukah engkau berbagi keheninganmu denganku? Tidak seperti yang selama ini kau bagi kepadaku, hanya senyum bahagia dan tawa penuh keceriaan. Meski dari senyum itu aku menemukan banyak kesederhanaan. Ya, kesederhanaan yang membuatku nyaman menjalani hari-hari ku yang kian rumit. Perhatian kecilnya yang membuatku rindu untuk segera pulang, kalimat bodohnya yang membuatku rindu untuk segera membalasnya, dan banyak lagi lainnya. 

Semoga kediamanmu beberapa hari lalu, membuatmu menyadari bahwa tidak hanya fikir dan dirimu yang hanyut dalam perdebatan. Karena akupun serupa.

Dari aku, 
Seseorang yang kau panggili Sahabat.

N. Ath

Komentar

Postingan Populer