Salam, Masa lalu

Kegalauan itu masih tampak begitu nyata.
Ketika melihat tawa di dalam senyuman sederhana. 
Namun sorot matamu, menafsirkan banyak hal yang berbeda.

Meski senyum dan tawa itu kau lakukan pada waktu yang hampir bersamaan.
Aku tau semuanya bukan untukku. 
Aku tahu betul, bahwa senyum yang kau rangkai menjadi potongan-potongan tawa itu, adalah serpihan rindu yang pernah hilang dalam terpaan kesibukan kita dahulu.

Tak pernah ku tampik memang, kita begitu tenggelam dalam cairnya kehidupan dunia. 
Mencari apa yang disebut sebagai jati diri dan status untuk diakui. 

Ah, sungguh disayangkan.
Tatapan itu dulu pernah menjadi milikku, seutuhnya. 
Sayangnya kini sudah tidak lagi, kau begitu mudah melupakan janji. 
Janji yang kau buat sendiri, untuk kita, di masa yang ter-abadi nanti. 

Masa memang harus berganti. 
Waktu yang pernah tersedia untu kita, takkan berhenti lagi untuk kedua kalinya.
Aku juga kamu, memilih menyudahi segalanya. 
Bahkan ketika waktu belum memperkenankannya. 

Kini, satu hal yang kupercaya. 
Menuai waktu di masa lalu adalah dosa.
Sedangkan menuainya di masa depan adalah pahala. 

Maka, jangan ingat aku sebagai masa lalu yang penuh dengan dosa. 
Ingatlah aku sebagai pahala di masa depan yang bahkan tak pernah kau kehendaki sebelumnya.

Semoga Tuhan, memperkenankan waktu kembali pada kita berdua. 
Jika tidak ke masanya, maka percayalah ada dia (seseorang yang lebih baik diantara kita untuk kita, pastinya).

Salam,
Masa lalu

N. Ath

Komentar

Postingan Populer