MENUMPAS KRISIS PERCAYA DIRI, MENUJU PRIBADI YANG BERKINERJA TINGGI


Pengantar
            Memasuki era globalisasi, sifat ketergantungan antar individu bahkan antar bangsa di seluruh dunia  semakin terlihat. Bentuk interaksi yang senantiasa dapat diakses dengan mudahnya sehingga memudarkan batas-batas suatu negara. Proses inilah yang dikatakan sebagai sebuah kemudahan sekaligus ancaman. Ditengah maraknya isu AFTA yang kian hari kian nyata dirasakan, menambah dilema bagi sejumlah individu yang merasa tidak mampu membentengi diri dari ancaman tersebut. Rendahnya pendidikan adalah pemicu utama munculnya dilema tersebut. Kurangnya perhatian dari pemerintah tentang pemerataan pendidikan di seluruh penjuru negeri menambah keprihatinan saya, calon teknolog pendidikan yang bertugas untuk menumpas masalah-masalah belajar.
            Namun seiring dengan berjalannya waktu saya mulai menyadari, bahwa riwayat pendidikan tidak selamanya mampu menjanjikan masa depan yang cerah melalui jaminan pekerjaan yang baik. Karena yang harus lebih disadari kini adalah bagaimana memunculkan rasa ingin tahu yang “Positif” dari masing-masing individu terkait potensi didalam diri.
            Ada sebuah pepatah yang mengatakan “Tak ada rotan, akar pun jadi”. Mungkin pepatah itu dapat melambangkan kondisi saat ini. Bila mungkin mengenyam pendidikan yang tinggi masih terasa sulit, maka cobalah bidang lain yang masih mungkin untuk ditekuni. Melalui artikel ini saya ingin menjabarkan bahwa ada cara lain untuk tiba di titik pencapaian meski tanpa riwayat pendidikan yang tinggi atau garis keturunan yang membawa dampak baik terhadap kehidupan di masa depan. Karena kita tidak butuh orang lain untuk menjadi diri kita sendiri, cukup percayakan diri kita, maka kita akan berada disana (titik pencapaian) yang kita harapkan. Ya, gagasan saya untuk meningkatkan belajar dan kinerja seorang individu ialah tingkatkan Percaya diri melalui 3S. (Oleh Saya, mulai dari Sekarang dan di Sini). Tidak perlu menunggu orang lain, dimulai di kemudian hari, dan menentukan tepatnya dimana. Hanya lakukan. 
KETERANGAN
Karya ini saya tulis berdasarkan pengalaman saya selama menjabat sebagai Mahasiswa Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan 2012 (kurang lebih 2 tahun). Baik berdasarkan hasil pengamatan saya kepada teman-teman Mahasiswa maupun pengalaman saya sendiri. Disini saya mencoba menghadirkan sejumlah ilustrasi nyata yang terjadi didalam perkuliahan sehari-hari.
PENGGUNAAN BAHASA
Kita = Mahasiswa.
Isi
            Sejumlah pengamatan pernah saya lakukan untuk melihat sejauh mana masalah rendahnya tingkat percaya diri dikalangan Mahasiswa masih menjadi kendala besar yang sulit untuk dihadapi. Tidak terkecuali diri saya sendiri, yang masih berstatus sebagai seorang Mahasiswa dan terkadang masih merasa sulit dalam membangun percaya diri. 
REALITA
            Khususnya di dalam kelas, disaat perkuliahan atau disaat moment presentasi akan dimulai. Disaat dosen membuka sesi tanya-jawab, dan tidak satupun dari mahasiswa di kelasnya mengajukan pertanyaan. YA, mungkin banyak dari kita yang belum merasa cukup percaya diri melontarkan sejumlah pertanyaan atau mengutarakan sejumlah tanggapan (yang sejatinya sudah ada di dalam pikiran). Atau ketika moment presentasi tiba dan mengharuskan kita mempersiapkan diri untuk berbicara menyampaikan materi didepan kelas. Diantara teman-teman Mahasiwa dan Dosen pengampu. Dengan sorotan mata yang berbeda, dan kita harus tetap berpikir positif akan hal itu. Sulit. Mungkin hanya itu istilah yang mampu digunakan untuk menggambarkan kondisi tersebut.
            Tidak banyak dari kita yang mampu melalui masa-masa itu dengan baik. Bukan, bukan karena kita tidak cukup pintar untuk menyajikan materi. Bukan pula karena kita tidak cukup persiapan untuk menyambut hari itu. Melainkan kurangnya rasa percaya terhadap diri kita sendiri. Maka melalui hal tersebut, saya menyimpulkan. Masih banyak diantara kita yang belum mampu mengatasi masalah ini, dan seringkali menyebutnya sebagai Krisis Percaya Diri.
SEMUA GOLONGAN
            Tidak ada batasan bagi mereka yang mengalaminya. Bahkan Mahasiswa pintar sekalipun pasti turut merasakannya. Karena permasalahan ini bukan sesuatu yang bisa diselesaikan hanya dengan “belajar” melainkan “praktek” secara berkala. Hal ini terlihat dari bagaimana Mahasiswa pintar cenderung mengandalkan kepintarannya untuk menjawab pertanyaan. Namun kualitas jawabannya akan terlihat berbeda ketika ia dihadapkan pada kondisi yang berbeda. Mahasiswa pintar akan mampu menuliskan jawaban yang sangat baik dengan kalimat yang terstruktur bahkan dilengkapi dengan penempatan tanda baca yang tepat, jika pertanyaan diberikan secara tertulis. Namun hasilnya akan berbeda, jika pertanyaan diberikan secara lisan (Praktek Lisan/Presentasi) bibirnya seakan kelu untuk mengucap jawaban (yang sejatinya sudah ada di dalam pikiran).  Hal ini seakan membuktikan:
Bahwa Pintar adalah usaha yang semua orang
mampu lakukan untuk mencapai predikatnya (Menjadi Pintar).
Namun Percaya diri adalah pilihan yang tidak semua orang
pilih untuk mencapai predikatnya (Menjadi Percaya Diri).
            Oleh karena itu saya ingin menekankan bahwa melalui proses belajar semua orang mampu mewujudkan impiannya sebagai Mahasiswa pintar. Namun dengan Percaya diri seseorang mampu menunjukkan eksistensinya, karena ia tidak hanya menjadi pintar, tapi ia pintar dengan cara yang berbeda. Dan saat itulah ia mendapatkan predikat barunya.
            Sebagai Individu yang diciptakan dengan penuh perbedaan, sudah selayaknya kita menghargai setiap sisi dari perbedaan tersebut. Menyadari bahwa tidak semua Mahasiswa pintar dan tidak semua pula Mahasiswa bodoh. Semua hanya butuh waktu untuk lebih pintar dalam belajar. Karena belajar adalah proses. 
PERCAYA (DIRI)
            Namun yang seringkali mencuri perhatian adalah jika Mahasiswa bodoh kemudian bersikap seolah pintar dengan menunjukkan rasa percaya dirinya dalam berbicara, menyampaikan pendapat didalam forum (didalam kelas).
            Adakah yang salah dengannya? Setidaknya ia berani untuk mencoba. Membagi pendapatnya dengan teman-teman Mahasiswanya bahkan dihadapan Dosen pengampunya. Terlepas dari salah atau benarnya pendapat tersebut, itu hanyalah sebuah pendapat. Yang suatu hari nanti mampu ia ralat (perbaki) jika ia sudah mengetahui jawaban yang lebih tepat.
            Lantas bagaimana jika kondisinya seperti ini, seorang Mahasiswa pintar dengan segala persiapan yang telah dilakukan untuk menyambut presentasinya didepan kelas. Mulai dari mempersiapkan slide power point yang akan ditayangkan, hand-out yang sudah siap dibagikan, makalah yang sudah dijilid rapi dengan kalimat-kalimat indah serta terstruktur didalamnya, seakan ia sudah siap untuk berbagi kepada teman-teman Mahasiswa juga Dosen Pengampunya. Namun ketika presentasi dimulai, tangannya mulai bergetar (terlihat dari getaran kertas yang dipegangnya), posisi badannya tidak lagi tegak menghadap kedepan (terlihat dari gerakan kakinya yang mulai gemetar), pandangannya tidak lagi fokus pada satu tujuan (terlihat dari gerak-gerik matanya yang terus berpindah dari kiri ke kanan), serta bibirnya yang mulai terasa kelu seakan ragu menyampaikan setiap pesan yang dimilikinya dalam materi ini.
            Bahkan dengan segala persiapan yang telah dimilikinya dari jauh jauh hari. Ia masih merasa ragu untuk bergantung pada hal itu. Alhasil ia tidak mampu melaksanakan presentasinya dengan baik karena ia terlalu gugup menyampaikan sejumlah pendapat (yang dianggapnya paling benar), menjawab sejumlah pertanyaan (yang dianggapnya paling benar), beserta hal-hal lain yang dianggapnya paling benar. Bersikap seolah pintar terkadang membuat individu merasa yakin/mampu ketika dihadapkan dengan segala kondisi dalam hidup. Namun ternyata tidak. 
“Orang pintar hanya percaya dengan apa yang ia miliki, bukan apa yang ingin ia bagi.
Tapi orang percaya diri percaya dengan keduanya, ia menyakini apa yang ia miliki
mampu ia bagi dengan sepenuh hati.”
            Ilustrasi ini saya tulis bukan untuk menunjukkan siapa yang lebih baik, kepintaran atau kepercayaan diri. Karena keduanya merupakan aspek penting yang sangat dibutuhkan untuk menjadi pribadi berkinerja tinggi. Maka mulailah untuk menjalankan keduanya, menjadi pintar dan menjadi percaya dengan segala yang dimiliki. Karena dengan cara itu pula, orang lain akan mempercayai kita.
Kesimpulan
            Menumpas krisis percaya diri merupakan salah satu usaha yang bisa kita lakukan untuk berada disana (titik pencapaian) yang diharapkan. Dengan tidak hanya bergantung kepada riwayat pendidikan yang baik. Atau garis keturunan yang menjamin kehidupan di masa yang akan datang. Hanya percaya dengan segala yang dimiliki. Karena Tuhan YME menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna, bahkan disertai akal untuk berfikir yang membedakannya dengan makhluk lain. Ditambah kesempurnaan lain yang sudah sepatutnya untuk disyukuri. Maka dengan percaya akan hal itu, setidaknya telah menunjukkan rasa terima kasih kita akan segala nikmat dan karunia yang diberikan-Nya. Karena menjadi pintar disertai percaya diri yang tinggi akan senantiasa membawa kita ketempat yang baik dan lebih baik lagi.
Sumber Bacaan
            Terinsprasi oleh Karya Rhenald Kasali yang berjudul Self Driving. Kemudian beberapa pernyataan yang menghentakkan jiwa oleh Adjie Silarus dari bukunya yang berjudul Sejenak Hening. Serta berbagai sumber yang telah diolah. (Kebanyakan berasal dari Artikel dengan topik Krisis Percaya Diri). Konsep Teknologi Pendidikan yang saya peroleh berdasarkan proses belajar serta pengalaman selama mengikuti perkuliahan. Beberapa catatan yang diberikan oleh sejumlah dosen di Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan turut memberi inspirasi saya dalam menulis.

N. Ath

Komentar

Postingan Populer