GERBANG PENDIDIKAN UNTUK SEMUA KALANGAN BERSAMA GURU MASA DEPAN
A. Latar Belakang Masalah
Masalah yang kini
mengakar dan belum terselesaikan. Menjadi bukti bahwa jabatan masih menentukan
kenyamanan dalam menjalani kehidupan. Latar belakang kehidupan berperan penting
terhadap masa depannya kelak. Tidak ada lagi aroma kejujuran dari bangsa yang
menjunjung Pancasila sebagai Ideologinya. Semua kini terlihat sama, hitam dan
memilukan.
Satu-satunya dunia yang
diharapkan mampu memberikan sebuah pembaharuan, ternyata malah berujung pada
keterpurukkan. Sejatinya dunia pendidikan ialah dunia yang menjanjikan sebuah
kenyamanan bagi pengikutnya. Namun perjalanan waktu, membuatnya tidak lagi
nampak sebagaimana mestinya.
Jika menuntut pemerataan
kesejahteraan hidup mungkin masih terlalu sulit dirasakan. Apakah menuntut
pemerataan pendidikan masih jua terlalu sulit dirasakan? Bukankah puncak dari
kemajuan bangsa adalah prestasi dari anak bangsanya. Lalu bagaimana Indonesia
mampu mencapai puncak kejayaannya, jika bangku pendidikannya hanya sampai pada
tingkat kota. Dan belum menyentuh pada tingkat desa. Apakah hanya masyarakat
kota yang berhak menjalani 12 tahun masa pendidikannya? Lalu bagaimana dengan
masyarakat desa yang menjalani harinya hanya untuk menanam padi demi sesuap
nasi?
Program wajib belajar 12
tahun yang diusung-usung menjadi program unggulan Indonesia, mulai membelalakan
banyak mata. Benarkah janji itu nyata adanya? Disaat semua anak mulai bersiap
menyusun mimpi untuk memasuki masa pendidikannya. Mimpinya harus kembali gugur
dalam gelapnya dunia pendidikan masa kini. Janji manis itu memang pernah ada,
menyeruak ke permukaan. Namun tak sampai bertahan begitu lama, semuanya hilang
bagai udara yang menghantarkan api menjadi abu.
Kemana lagi mereka harus menuntut apa yang selayaknya menjadi
miliknya? Jika wakil-wakil yang ia percaya mampu menepati janji-janjinya. Malah
sampai hati mengacuhkannya. Lantas apa yang bisa kita lakukan, haruskah kita
berlindung di dalam diam. Bukankah kita segolongan mahasiswa yang setidaknya
mampu menghidupkan secercah harapan? Orang-orang terpelajar yang sudah
selayaknya menjadi bukti bahwa kesempatan itu masih ada. Pendidikan untuk
mereka, anak bangsa di pelosok Indonesia.
B. Tujuan Penelitian
Memilih diam untuk
mengatasi masalah bukanlah sebuah kesalahan. Namun bukan menjadi pilihan yang
tepat, paling tidak untuk membuktikan bahwa kita adalah seorang yang
menginginkan sebuah perubahan. Jika perubahan menjadi hal yang selalu
didambakan. Apakah cukup dengan diam semua itu dapat terlaksana dengan sebagai
mana mestinya? Tentu tidak.
Dunia yang kejam tidak
nampak dari berapa banyak pelaku-pelaku kejahatan didalamnya. Dunia yang kejam
nampak dari banyaknya orang yang memilih untuk diam, melihat pelaku-pelaku
kejahatan bertindak semena-mena di dunianya.
Sebagai calon teknolog pendidikan yang bertugas menumpas masalah
belajar, saya bertekad untuk memberantas masalah pemerataan pendidikan yang
sampai kini belum terlaksana. Jika memberikan janji untuk menyediakan
pendidikan formal bagi seluruh anak di pelosok Indonesia masih terlalu sulit
bagi saya. Maka paling tidak saya akan berusaha untuk memfasilitasi mereka agar
tetap belajar. Karena satu hal yang saya yakini kebenarannya, jika materi mampu
memberikan kesejahteraan kehidupan dunia. Maka ilmu yang bermanfaat mampu
memberikan kesejahteraan dalam dua kehidupan yang berbeda. Di dunianya juga
Akhiratnya.
C. Survey Membuktikan
6,4 Juta Penduduk di
Indonesia Masih Buta Huruf
Itu berarti setidaknya 10% penduduk setiap provinsi Indonesia
masih berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Jika membaca saja masih
terlalu sulit bagi mereka, bagaimana mereka mampu membangun mimpi dan cita-cita
yang tinggi. Jika semua itu harus terbatasi oleh dinding yang terlampau tinggi.
Terbatasnya ruang pendidikan, membuatnya bahkan tak mampu untuk sekedar
memimpikannya.
D. Pembahasan
WHY
Jika saja semua orang
mampu mendapatkan proses belajar yang sama. Mungkin banyak diantaranya yang
sudah terpilih menjadi orang-orang terbaik kebanggan bangsa. Namun hasil survey
membuktikan adanya kesenjangan pendidikan yang dirasakan oleh penduduk di kota
dan desa. Sungguh ironi, disaat penduduk kota mampu memilih lembaga pendidikan
mana yang terbaik untuk mengenyam bangku pendidikan. Penduduk desa sama sekali
tak memiliki banyak harapan, bahkan untuk sekedar melihatnya. Lantas apa yang
mampu dilakukan bagi segolongan mahasiswa yang berharap ada sedikit pembaharuan
yang nyata untuk dunia pendidikan bangsanya.
Dewasa ini, disaat
profesi menjadi penentu kesuksesan kehidupan seseorang. Banyak orang mulai
beralih, berawal dari mimpi mulia dan berujung pada ketamakkan dunia.
Berprofesi sebagai seorang tenaga pendidik tidak lagi digemari, tidak lagi
dijunjung tinggi, dan tidak lagi disebut sebagai sebuah profesi yang mampu
memenuhi kebutuhan sehari-hari. Lantas bagaimana Indonesia mampu mencerdaskan
anak-anak bangsa, jika pemenuhan kesejahteraan Guru masih dipandang sebelah
mata?
Guru adalah ujung tombak
dari dunia pendidikan. Di tangan gurulah maju dan mundurnya pendidikan. Sebagai
pelaku utama pendidikan, pemberdayaan guru menjadi keniscayaan. Pemberdayaan
guru dimaksudkan sebagai upaya memunculkan guru-guru yang berprestasi, yang
mampu mencetak peserta didik menjadi insan-insan yang berkualitas.
Pemberdayaan yang menuju
pada prestasi bisa ditempuh dengan menumpuk profesionalitas, kemandirian,
keinovatifan, serta kecerdasan emosional dan moral guru sebagai modal kerja dan
kinerjanya. Perihal guru dengan kinerjanya adalah menyangkut seluruh aktivitas
yang ditunjukan oleh guru dalam tanggung jawabnya sebagai orang yang mengemban
suatu amanat dan tanggung jawab untuk mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, dan memandu peserta didik dalam rangka menggiring perkembangan
peserta didik ke arah kedewasaan mental-spiritual maupun fisik-biologis.
Kinerja guru juga adalah
perilaku atas respons yang memberi hasil yang mengacu kepada apa yang mereka
kerjakan ketika dia menghadapi suatu tugas. Kinerja guru menyangkut semua
kegiatan atau tingkah laku yang dialami guru, jawaban yang mereka buat, untuk
memberi hasil atau tujuan. Terkadang kinerja hanya berupa respons, tapi
biasanya memberi hasil. Kinerja dapat dipandang dari berbagai aspek, baik dari
sudut guru maupun siswa.
Membangun
cita-cita menjadi seorang tenaga pendidik menjadi mulia untuk mereka. Mengajar
dengan hati yang ikhlas, mencerdaskan bangsa dengan kejujuran. Menjadi guru
bagi mereka mungkin pilihan yang tepat. Menjadi guru masa depan yang tidak
hanya terdepan dalam mengembangkan inovasi-inovasi dalam pendidikan. Melainkan
menjadi bukti terselenggaranya pendidikan yang maju dan terdepan bagi mereka,
anak-anak di pelosok Indonesia.
WHAT EFFECT
Pemerataan pendidikan yang belum terlaksana dengan baik. Berdampak
pada rendahnya tingkat kesejahteraan rakyat. Namun hal itu terjadi bukan tanpa
alasan. Mereka yang menjalani harinya tanpa sekolah, bukan karena tak memiliki
keinginan. Atau karena memiliki banyak pilihan. Mereka hanya tak memiliki
kesempatan. Untuk mengubah apa yang mereka sebut dengan....
“Keinginan menjadi sebuah Pencapaian”.
Karena kembali kepada
prinsip dasar dari teknologi pendidikan yakni belajar dalam konteks yang luas.
Yang tidak hanya terjadi disekolah, pusat pendidikan dan pelatihan, di
masyarakat, belajar mandiri, atau belajar lain dalam rangka meningkatkan
wawasan dan refleksi diri seseorang.
Sebagai seorang mahasiswa yang sangat beruntung memiliki
kesempatan untuk mempelajari banyak hal dalam hidup. Saya berusaha untuk berada
dalam mimpi yang sama dengan jutaan anak di pelosok Indonesia. Yang sampai kini
masih bertanya-tanya....
“Benarkah keberadaan Guru hanya dibatasi oleh empat dinding yang
disebut kelas?”
Keberadaan guru sampai
kini memang masih sebatas itu. Guru-guru yang bergelar Pahlawan tanpa tanda
Jasa itu duduk didepan mejanya. Mengajar dengan sabar dari balik meja kayunya.
Sesekali memberikan perintah, untuk menguji sudah sejauh mana siswanya belajar.
Sesekali mengetuk mejanya, untuk mencuri perhatian seluruh siswa dikelasnya.
Tidak beranjak hingga waktu menunjukkan bahwa kegiatan belajar harus usai. Dan
iapun mulai pergi meninggalkan ruang yang disebutnya sumber pahalanya.
Namun benarkah keberadaan guru hanya sebatas itu, bukankah
seharusnya Guru yang baik itu ada di setiap sisi dalam dunia anak-anak yang
ingin belajar? Tidakkah itu menjadi adil bagi kami, anak-anak di pelosok
Indonesia. Kemana lagi kami harus mencari, kasih Guru yang tanpa batas itu....
“Kasihnya tanpa batas, karena keberadaannya terbatas.”
Menjadi sosok tenaga pendidik yang tidak dibayang-bayangi oleh
keempat dinding itu mungkin bukan hal yang mudah. Pernahkah sesekali kita
berfikir bagaimana wujudnya Guru di masa depan? Mengacu pada
permasalahan-permasalahan pendidikan yang saat ini sedang menghinggapi
Indonesia. Saya ingin mencoba mendeskripsikannya. Bagaimana sosok Guru di masa
depan dalam mengatasi masalah pendidikan Bangsanya. Mengantisipasi hal-hal
negatif yang mungkin terjadi, dan mengubahnya menjadi hal positif untuk masa
depan.
HOW
Guru masa depan adalah
mereka yang berasal dari golongan pengemban profesionalitas jabatannya sebagai
Guru. Profesional adalah seorang yang pekerjaannya memerlukan pelatihan dan
pengalaman khusus yang lebih tinggi, tanggung jawab yang sah secara hukum,
seperti lisensi untuk melakukan pekerjaan dan menentukan prestasi etika
standar. Banyak survey menunjukkan, bahwa seorang profesional cenderung untuk
lebih berkonsentrasi terhadap etika dan tanggung jawab profesionalnya
dibandingkan dengan yang lainnya.
Penekanan terhadap
profesional, cenderung untuk memelihara dan mengikuti standar etika yang
berlaku dalam masyarakat. Profesional memiliki tugas untuk meletakkan etika
suatu organisasi yang digunakan dan memegang teguh etika tersebut. apabila
mereka tidak menggunakan etika standar yang berlaku, maka sering dinamakan
sebagai coconspirator dalam melakukan pekerjaannya atau sebagai pekerja
sampingan yang tidak mengandalkan sumber kehidupan dan keahlian pada pekerjaan
tersebut.
Para pekerja yang
profesional, seperti Guru, Ilmuwan, Insinyur, dan Akuntan akan membawa keahlian
khusus mereka terhadap organisasi sebagai akibat dari pendidikan atau pelatihan
khusus. Karier mereka berbeda dan isu organisasi yang dialami pun berbeda
antara profesionalitas yang satu dengan yang lainnya. Dalam praktiknya mereka
yang tidak memiliki latar belakang profesional yang sama akan kesulitan dalam
memotivasi atau memimpin siswa atau karyawannya.
Seorang yang profesional
memerlukan kebebasan untuk menentukan sendiri dalam pekerjaannya. Mereka akan
lebih berkomitmen terhadap bidang dan profesinya daripada terhadap
organisasinya. Seorang prfoesional memerlukan kebebasan menentukan sendiri yang
lebih dibandingkan dengan non profesional atau mereka akan tegas terhadap
standar profesional. Karyawan atau Guru yang profesional tidak akan dapat
memajukan organisasinya tanpa mengambil pertanggung jawaban manajerial.
Artinya, manajerial adalah juga bagian dari kemampuan yang harus dimiliki oleh
seorang porfesional.
Konsep profesionalisme
telah diperkenankan dalam arti tradisional yang berarti aturan pekerjaan tetap,
yang dibedakan oleh monopoli pengetahuan atau keahlian seorang profesional
dalam hubungannya dengan kelompok. Profesionalis menekankan pada kebutuhan untuk
menentukan sendiri terhadap pekerjaannya, seiring dengan itu ia merefleksikan
kenyataan dalam kerja profesional yang ditunjukkan kepada orang lain. Hal
tersebut akan membawa kita untuk memandang seorang profesional dalam pemahaman
hubungan dan batasan antara profesi yang diembannya, terkadang mengharuskan
perbedaan manajemen dalam pengelolaannya.
Manajer yang profesional
akan berbangga terhadap keahlian pekerjaan yang luar biasa dan kemampuannya
untuk mendasari keputusannya dalam pekerjaannya yang profesional. Guru yang
baru memulai kariernya atau peneliti pemula akan dapat dengan mudah berkembang
dan dapat diterima keberadaannya manakala merreka memiliki komitmen pada garis
profesional dan memiliki komitmen terhadap institusi. Manajer sebuah organisasi
yang profesional akan menjadi lebih disegani oleh bawahannya, dia akan lebih
disenangi karyawan, seiring dengan itu bawahan pun akan dengan sukarela
memberikan kerja yang produktif, sehingga muncul suatu kinerja organisasi yang
optimal.
Para profesional pada dasarnya merujuk pada kategori pekerjaan
yang beragam. namun demikian, yang penting adalah output pekerjaannya yag harus
bernuansa profesional dengan pekerja yag nonprofesional. Pekerja profesional
berasal dari persaingan kebutuhan di bidang pekerjaannya, yang dilakukan
melalui pelatihan dan sering kali diakui atau diperoleh dari gelar kesarjanaan,
lisensi, atau sertifikat. Berbagai pekerjaan yang diharapkan untuk melatih
kewenangan profesional harus menemukan dasar teknis untuk hal tersebut, terdapat
hubungan antara keahlian dengan peraturan pelatihan yang tepat sesuai standar,
dan meyakinkan publik bahwa ia dengan seperangkat kepakarannya akan melayani
publik dengan baik.
Karier Guru sebagai
Seorang Profesional
Scarbrough memahami profesionalisme
merupakan suatu paham tentang komunikasi pengetahuan yang langsung terwujud
dalam pembelajara dan pengalaman individu atau kelompok. Selanjutnya dikatakan
bahwa bentuk komunikasi tidak hanya menjalankan arus utama pada lembaga sosial,
tapi juga langsung pada spesialisasi lembaga pendidikan/sekolah dan training
kelembagaan. Pandangan ini mengartikan, profesionalisme dalam konteks
pendidikan/training adalah paham tentang kemampuan untuk bekerja sama yang
dipraktikan dalam masyarakat, kemampuan berdiskusi tentang strategi baru,
selalu terbuka menerima ide-ide baru, memiliki kemampuan untuk memecahkan
masalah, mampu berpikir tentang pengajaran, mampu mengumpulkan dan menganalisis
data, serta mampu mencari dan melihat masalah sekaligus meningkatkan kemampuan
probadi untuk menanganinya dan bukan sekedar mengikuti standar prosedur
pemecahan masalah dalam kaitannya dengan pendidikan/sekolah.
Gambaran lain terkait
seorang Guru yang profesional ialah dengan mengacu pada pemahaman budaya yang
luas di dalam masyarakat, memiliki kekhususan atau keahlian yang luas, serta
memiliki jiwa kepemimpinan. Lebih jauh dikatakan bahwa di dalam masyarakat kita
telah tersusun pengaruh-pengaruh dari profesi sebelumnya. Dengan demikian
berarti seorang yang profesional, seperti Guru, dipandang publik sebagai orang
yang pakar dengan kemampuan yang tinggi dalam batasan bidangnya, yaitu
pendidikan dan pengajaran. Dengan kata lain, dia memiliki prestise di bidang
pendidikan tersebut.
Pada bagian lain disampaikan bahwa kriteria dari seorang yang
profesional ialah memiliki produk yang standar, tingkat kepribadian yang
senantiasa melibatkan profesionalitas, pengetahuan yang luas tentang teknik
spesialisasi, perasaan obligasi (merupakan salah satu seni), perasaan identitas
grup, dan signifikansi pekerjaan atau pelayanannya kepada masyarakat.
Pribadi Guru yang
Mandiri
Guru adalah orang yang
sangat berpera dalam keseluruhan proses belajar-mengajar di dalam kelas. Guru
banyak sekali diharapkan oleh siswa. Siswa akan merasa puas bila Guru dapat
memenuhi harapannya. Sebaliknya siswa akan merasa kecewa bila guru
mengabaikannya. Dalam pertemuannya dengan siswa, Guru sangat menyadari
peranannya. Berbagai tantangan yang dihadapai oleh Guru, sebab di satu sisi ia
harus tegas, namun di sisi lain ia harus sabar, ramah, baik hati dan penuh
pengertian. Guru juga harus mampu menciptakan suasana aman. Guru yang baik akan
mampu memberikan tugas agar siswanya terodorng untuk mencapai tujuan
belajarnya. Dengan cara yang simpatik Guru juga harus mampu menegur,
mengoreksi, dan memberi penilaian yang obyektif. Dalam kesabaran tiada batas,
guru akan menerima keadaan siswa apa adanya. Ragam karakteristik siswa yang
berasal dari latar belakang yang berbeda kini harus disatukan pada satu wadah
untuk di didik secara benar. Dalam keanekaan tersebut Guru harus dapat memahami
dan menyelami pikiran siswa. Melihat kondisi yang demikian, kepribadian guru
seolah-olah terbelah menjadi dua bagian: di satu sisi harus bersikap empatik,
namun di sisi lain harus mampu bersikap kritis. Dengan kata lain, tuntutan
terhadap Guru menjadi kompleks dan profesional.
Terkait dengan optimalisasi kinerja Guru, yaitu upaya
Guru untuk dapat melaksanakan keinginannya untuk melakukan sesuatui yang baik
menyangkut gagasan, tindakan, maupun pengalamannya di dalam rentang kehidupan
pekerjaannya, untuk mencari kesempatan melakukan strategi-strategi melalui
serangkaian aktivitas pekerjaan sebagai panggilan nurani dalam rangka
aktualisasi diri yang berorientasi ke masa depan dirinya, anak didiknya, dan
sekolahnya. Maka dengan kepercayaan diri dan kemampuan yang dimiliki itu seorang
guru akan memiliki kemandirian dengan membuat berbagai kreasi dan ide-ide baru.
Disamping itu, dia juga mampu melakukan pilihan yang tepat. Berdasarkan
kenyataan itulah, maka makin seorang guru memiliki kemandirian, makin mampu ia
mengoptimalisasikan kinerja Guru dalam kerjanya, dan semakin profesional ia
dalam melaksanakan tugasnya.
Keinovatifan Guru
Seorang Guru tidak hanya
dituntut untuk mampu melakukan kewajibannya sesuai dengan bidang tanggung
jawabnya sebagai pendidik, tetapi masih mempunyai tanggung jawab pada
lingkungannya, sehingga diperlukan tambahan seperangkat ilmu dan keterampilan.
Hubungan antara ilmu dan keterampilan inilah yang membuat seorang Guru menjadi
inovatif. Inovasi bagi seorang Guru hukumnya adalah mutlak, terutama dalam menghadapi
era desentralisasi dan globalisasi saat ini, di mana daerah memiliki kewenangan
yang besar dalam mengelola daerahnya sendiri yang diantaranay terdapat pula
sektor pendidikan. Terjadinya perubahan di seluruh lini dan sektor demikian
cepat. Karena itu, seorang Guru dituntut untuk bisa melihat perubahan yang
terjadi di sekitarnya dan mengambil peluang agar dapat turut serta meningkatkan
organisasi pendidikan, kreatif untuk dapat survive dalam situasi yang serba
sulit ini, sera responsif menghadapi keadaan untuk mendapatkan manfaat yang
maksimal yang berguna bagi dunia pendidikan.
Guru yang inovatif akan
menjadi idola di mata siswanya, berupa kekaguman dan keterpesonaan atas
kepemilikan seperangkat nilai lebih yang ada dalam dirinya. Dengan kelebihannya
itulah, ia akan diteladani, disegani, dan diikuti oleh anak didik dan
masyarakat di sekelilingnya.
Guru yang inovatif
adalah ia yang cerdik cerdas dan proaktif. Atau dengan kata lain, siap
menjemput bola untuk memanfaatkan peluang dari perubahan yang ada dan
memperoleh sesuatu yang baru. Karenanya, Guru yang inovatif adalah guru yang
memiliki kinerja tidak hanya terpaku kepada sesuatu yang telah dibakukan, namun
seluruh aktivitas yang ditunjukkan oleh Guru dalam tanggung jawabnya sebagai
orang yang mengemban suatu amanat dan tanggung jawab untuk mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, dan memandu peserta didik ke arah suatu upaya untuk
mengembangkan sesuatu yang baru. Guru yang memiliki sikap ini akan siap
menghadapi setiap perbedaan-perbedaan. Sebab, keinovatifan bagi Guru dapat pula
dipahami sebagai dasar kontribusi pribadi dan bukan sekedar untuk pemenuhan
(compliance) dari suatu keadaan yang mandek (status quo) atau sekedar adat
kebiasaan. Basis untuk berinovasi adalah lebih pada tingkat elementary dari
kegiatan atau perbaikan seseorang. Inovasi dapat menjamin pengembangan produk
dan dapat merespons perilaku terhadap perbedaan-perbedaan. Manakala kinerja
guru berdasarkan kepada perluasan dunia pendidikan, maka diperlukan tenaga
pengajar yang cerdas dan kreatif. Keinovatifan guru merupakan ukuran dan harus
disadari pada kinerja yang dapat diterapkan untuk setiap mata pelajaran, dimana
guru tersebut harus dinilai melalui tes kinerja, apakah guru tersebut memenuhi
persyaratan atau tidak. Siswa dalam hal ini adalah pengguna jasa pendidikan.
Kepada guru, siswa dititipkan untuk mendapatkan sesuatu yang baru. Maka, guru
harus mampu menjadi sumber informasi tentang kebaruan tersebut. Juga bagi
seorang guru yang memiliki jiwa inovatif akan merasa berhasil bila memiliki
keberanian untuk menampilkan ide-ide baru, yang akan diberikan kepada siswa,
sehingga siswa merasa bangga bahwa sang guru mengandung sumber berkah dengan
kapasitas baru untuk mengkreasikan kekayaan. Siswapun memiliki keberanian
memperoleh kesempatan baru untuk mencapai kepuasan dan kebutuhan manusia yang
hakiki, sehingga siswa mampu mentransformasikan ide kepada suatu produk yang
mengandung nilai jual, ke dalam pelayanan baru.
Segala keberhasilan
tersebut tentunya diperoleh dari seorang guru yang berjiwa inovatif. Guru yang
inovatif selalu berupaya untuk membuat sesuatu lebih baik daripada sebelumnya,
dan akan dipersiapkannya secara bertanggung jawab. Hal ini bisa terlihat
melalui penampilan, seperti:
1. Persiapan pengajaran
2. Aktivitas selama
mengajar
3. Kegiatan selama guru terlibat dalam masyarakat pendidik atau
lingkungannya.
Orientasi Moral guru
Guru yang bermoral
adalah dambaan bagi setiap manusia yang memerlukan pendidikan, sebab guru
merupakan yang sangat berperan dalam keseluruhan proses belajar-mengajar di
dalam kela. Guru bukan hanya diharapkan oleh siswa, namun masyarakat pun merasa
bahagia bila setiap guru dapat memenuhi harapan sebagai orang tua kedua bagi
anak mereka, dimana mereka menitipkan masa depan anak mereka. Sebaliknya,
siswa, orang tua, dan masyarakat akan sangat kecewa bila guru menyimpang dari
harapan mereka.
Salah satu penyimpangan
yang sanagat tidak diharapkan adalah penyimpangan moral bagi guru yang dianggap
figur yang dapat dipercaya dan ditiru. Dalam setiap pertemuannya dengan siswa,
guru diharapkan dapat menyadari perannya. Berbagai kendala yang dihadapi guru
harus dihadapi secara tegar, sbar, dan tawakal. Guru harus ramah, baik dan
penuh pengertian terhadap siswanya. Guru juga harus mampu menciptakan suasana
aman. Dengan cara yang simpatik, guru memandu siswa yang merupakan kebutuhan
pribadi untuk meraih cita-cita mendatang tidak putus di tengah jalan. Guru
harus bisa mengajarkan bagaimana cara bersikap, menegur, mengoreksi, dan
memberi penilaian yang obyektif kepada siswa untuk sesuatu yang keluar dari
batas-batas aturan moral yang berlaku. Dalam kesabaran yang tiada batas, guru
membawa siswa pada pemahaman kecerdasan moral yang akan menyelamatkan diri-nya
(siswa) untuk menyongsong masa depan.
Guru dari berbagai
tingkatan pendidikan harus menyadari bahwa keberadaannya ketika berada di depan
kelas sangat berpengaruh. Apa yang dikatakan seorang Guru, sikap dan
keyakinannya, sangat berpengaruh terhadap seluruh siswa dikelasnya. Dalam hal
ini, bisa saja terjadi bias pada Guru. Yang dimaksud dengan bias adalah apa
yang menjadi keyakinan Guru, dipersepsikan secara berbeda oleh siswa. Apabila
hal ini terjadi, maka sebaiknya tidak menyebabkan guru kemudian memberikan
batasan-batasan terhadap tingkah laku siswa di kelasnya.
Bagaimana cara mencegah kemungkinan terjadinya perbedaan persepsi
ini? Beberapa cara dapat dilakukan sebagi bentuk antisipasi, salah satunya
adalah dengan mengadakan diskusi antara Guru dengan siswa. Jika siswa mampu
merasakan setidaknya kebebasan dalam berpendapat serta perasaannya, hal yang
diharapkan dikemudian hari ialah siswa tidak lagi ragu untuk mengenal lebih
dekat terkait Gurunya. Ia akan mudah mempelajari segala hal, jika ia sudah
mengenal segalanya dengan baik. Itulah yang kemudian menjadi salah satu
komponen proses belajar yang turut diperhatikan dalam keberlangsungannya. Namun
yang sering kali terlihat saat ini ialah guru yang berkualitas tidak lagi
tertangani dengan baik, sehingga Guru kehilangan idealismenya sebagai tenaga
pendidik dan tenaga terdidik. Pengamatan di lapangan menyimpulkan bahwa salah
satu yang menyebabkan guru berkualitas adalah kesejahteraan yang memadai untuk
hidup sheari-hari dan mengembangkan kualitas serta kreativitasnya pada saat
mengajar di dalam kelas untuk menerapkan sistem yang ada. karenanya, guru yang
profesional dapat terangsang untuk menyusun pola kerja yang lebih luwes dan
mandiri untuk menentukan desain pembelajarannya. Pengabdian guru pada dasarnya
lebih dari pada pelaksanaan pengabdiannya kepada sekolah, kepada murid, dan
kepada idealisme pribadi yang diwujudkan dalam pelaksanaan pendidikan dan
pengajaran, serta pengabdian kepada masyarakat, walaupun kenyataannya sering
menghadapi hambatan dan kendala-kendala yang menyedihkan.
Kecerdasan Emosional
Guru
Adanya julukan “Sekolah
Favorit” dan “Sekolah biasa-biasa saja”. Bagi beberapa orang tua, mereka sangat
mengharapkan anaknya dapat masuk ke sekolah favorit, agar anak-ananya dapat
mendapatkan pelajaran yang baik, hingga akhirnya ia dapat melanjutkan
pendidikannya di Perguruan Tinggi Negeri yang juga favorit.
Mengapa sampai timbul
istilah tersebut? Tentunya tidak luput dari semua komponen pendukung
didalamnya. Jika didalam sekolah, dikenal adanya Fasilitas seperti Sarana dan
Prasarana, Perangkat pendidikan yang digunakan seperti Kurikulum, dan komponen
lain sekaligus yang paling menentukan keberhasilan belajar siswa adalah Guru.
Karena dibalik sekolah berlabel “Favorit” pasti ada komponen pendukung lain
yang tentunya “Favorit” pula.
Itulah mengapa sekolah
dikatakan sebagai suatu sistem pendidikan yang mampu mendukung keberhasilan
belajar siswa. Karena satu komponen tanpa komponen lain takkan mampu
berlangsung dengan baik. Dan salah satu komponen yang paling mempengaruhi
keberlangsungannya adalah tenaga pendidik, Guru.
Guru seringkali diuji untuk mampu mengajar disuatu sekolah,
komponen yang diuji biasanya mengacu pada latar belakang kehidupan, riwayat
pendidikan, juga jam terbangnya. Namun menurut saya, tidak hanya komponen
tersebut yang sebenarnya harus diperhatikan. Ada komponen lain yang turut
diperhatikan demi pencapaian keberhasilan belajar siswa disekolah. Yakni sikap
atau bagaimana cara seorang Guru menjadi contoh yang baik untuk siswanya. Yang
dapat terlihat dari tutur katanya, sopan santunnya, penghargaannya kepada semua
siswanya. Hal ini menjadi penting karena yang sering kali ditemui di pendidikan
Indonesia saat ini adalah Guru yang lebih terlihat mendominasi untuk menggurui.
“Keberadaan guru untuk Memfasilitasi tidak untuk Menggurui.”
Seorang guru yang
memegang teguh profesinya dengan baik, adalah mereka yang menyadari
kapasitasnya dengan baik pula. Mereka yang menyadari kapasitasnya sebagai
tenaga pendidik, dan bukan sebagai satu-satunya sumber utama proses belajar
siswa. Guru yang baik adalah mereka yang mampu meyakini siswanya dengan prinsip
belajar sepanjang hayat dengan mengacu pada proses belajar berbasis aneka
sumber. Sehingga siswa tidak lagi terpaku pada proses belajar empat sisi yang
dilaluinya setiap hari, dan berakhir pada saat toga menutup akhir dari
perjalanan panjang pendidikannya.
Karena bukan itu akhir
dari proses pendidikannya. Belajar sebagai sebuah kebutuhan, adalah hal
mendasar yang harus diketahui oleh semua orang. Termasuk mereka, anak-anak di
pelosok Indonesia. Buta huruf mungkin tidak lagi menjadi hal yang buruk
baginya. Semua anak terlihat sama di desanya, memprihatinkan. Keberadaan Guru
ditengah desanya mungkin mampu membawa secercah harapan bagi mereka. Tenggelam
bersama ribuan mimpi anak-anak dari pelosok Indonesia. Yang juga ingin membaca,
tumbuh menjadi anak-anak pintar yang melalui harinya untuk mempelajari banyak
hal bersama sang Guru.
Meraih mimpi mereka,
mungkin terlalu jauh. Tak jua terlalu mudah. Namun manusia selayaknya menyadari bahwa tidak ada kehidupan
yang berlangsung utuh. Semua hanya berawal dari niat yang tangguh.

Komentar
Posting Komentar